MENYELAMATKAN MARTABAT BK

Posted: November 2, 2011 in Artikel BK

Selamatkanlah martabat profesi ini. Dengan menyandang nama Bimbingan Konseling (BK) merupakan sebuah evolusi profesi dalam rangka membangun citra dirinya yang telah lama terpuruk oleh perlakuan wajah lama dengan sandangan Bimbingan Penyuluhan (BP).

Berawal dari nama ini, sebuah sistem terbangun dan menjadi dasar pedoman serta pandangan guru BP untuk melaksanakan tugasnya. Berlagak garang, memberikan hukuman dan sangsi, menyalahkan orang yang bersalah tanpa memberikan solusi sehingga ditakuti siswa di sekolah. Perlakuan secara fisik menjadi senjata yang ampuh untuk mengatasi masalah siswa, sehingga tidak kalah perannya dengan SATPOL PP yang ada di jalanan. Namun, alhasil saat itu pula kekerasan terhadap siswa masih aman dilakukan oleh guru BP atau guru yang lainnya. Anehnya lagi saat itu juga orang tua siswa tidak banyak yang protes atas kekerasan siswa di sekolah dan hal itu dianggap solusi yang wajar untuk anak-anaknya.

Hingga bergantinya dengan nama baru BIMBINGAN KONSELING serta dengan konsep pandangan yang baru, ABKIN sebagai badan yang menaungi bimbingan konseling di Indonesia mencoba untuk membangun citra guru BK yang bermartabat. Menghilangkan semua produk-produk negatif dari bimbingan penyuluhan yang terkesan menakutkan. Mulai dari seminar dan worksop BK di setiap daerah hingga pendidikan profesi untuk menunjang profesionalitas guru BK. Melalui sosialisasi tersebut diharapkan semua guru BK baik yang senior maupun yang junior (dari segi umur dan pengalaman) menerapkan bimbingan konseling yang membawa martabat profesi dan keselamatan anak bangsa.

Meskipun telah berganti nama dan kebijakan, banyak pula guru-guru BK yang masih menerapkan dan mempertahankan pola-pola lama dalam melaksanakan tugas ke-BKan. Banyak alasan yang membuat mereka bertahan. Mulai dari malasnya mempelajari konsep kerja BK yang baru, terbenturnya budaya BP yang masih terkesan sebagai polisi sekolah, benturan pandangan konsep BK dengan personil atau guru bidang studi lainnya dalam menangani permasalahan siswa, kebijakan pimpinan atau sekolah yang tidak memahami tugas BK yang sebenarnya serta campur aduknya penanganan ketertiban dan kedisiplinan antara BK dan kesiswaan. Hal ini banyak terjadi pada guru-guru BK di daerah yang tidak pernah mengaktifkan MGMP BK ataupun tidak pernah mengikuti seminar dan workshop BK. Jika ada sosialisasi pun adanya di kota besar seperti Jakarta, semarang, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Bali. Bagi guru BK di daerah seperti Cilacap sangatlah berfikir ulang untuk bisa mengikuti kegiatan profesi tersebut. Dengan alasan, sekolah tidak memberi ijin tertulis untuk mengikuti kegiatan tersebut, jika diijinkan harus menggunakan biaya sendiri, hal itupun tidak boleh dilaksanakan pada hari aktif sekolah karena bisa menggangu tugas dinas di sekolah. Kendala itulah yang membuat martabat BK masih dalam bayang-banyang semu.

Wajah lama itu benar-benar masih terasa sampai hari ini dan sulit untuk dihapus dari tugas mulia ini. Pemahaman yang salah ini telah “Mbalung Sumsum” atau mendarah daging. Kendala yang paling sulit buat kami guru BK dalam membenahi profesi ini adalah ketidaksepahaman pandangan antara guru BK dengan personil sekolah lainnya. Personil yang dimaksud adalah guru bidang studi, staf dan karyawan atau juga pimpinan yang tidak tahu tugas dan koridor kerja guru BK yang sebenarnya dalam menangani masalah siswa di sekolah. Pemahaman yang mereka miliki dapat ditafsirkan bahwa guru BK bertugas dan bertindak menangani siswa seperti polisi sekolah, yang menginjak, memberi sangsi dan hukuman baik psikis maupun fisik. Kemungkinan pemahaman mereka diperoleh dari pengalaman di lapangan sebelumnya di masa lalu, bisa saat mereka menjadi guru ataupun saat mereka masih menjadi siswa, sehingga pemahaman mereka masih terbawa sampai hari ini. Alhasil ketika ada sebuah sekolah dengan guru BK yang menerapkan penanganan siswa yang benar mereka sulit untuk menerimanya.

Kedisiplinan dan ketertiban siswa adalah tugas bersama guru di sekolah. Kerapihan seragam dan rambut menentukan penampilan siswa di sekolah. Pengalaman pribadi pada suatu hari saya ditanya oleh wali kelas di sekolah saya. “Pak, anda guru BK, tolong si A dipotong saja rambutnya yang panjang itu”, sebagai guru BK hati nurani saya mengatakan “kalau bisa guru BK tidak memotong rambut siswa karena bertentangan dengan profesi saya, saya kan bukan tukang potong rambut, guru BK kan dokter di sekolah buka polisi sekolah, saya tidak mau menangani masalah siswa dengan eksekusi secara fisik, tugas saya menangani siswa secara psikis”. Lantas saya menjawab “ maaf bu saya tidak mau memotong rambut silahkan anda sendiri sebagai orang tua siswa di sekolah yang lebih memiliki kewajiban menangani siswa, setelah anda potong baru nanti saya tangani siswa tersebut”.

Cerita singkat tersebut salah satu permasalahan ketidaksepahaman tugas antara guru BK dengan personil lainnya. Ada juga pandangan guru lain yang menginginkan tugask guru BK dikembalikan biasanya (menangani siswa baik secara fisik maupun psikis) tanpa menghiraukan kode etik yang dimiliki guru BK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s