GURU BK SEBUAH PROFESI DIPERSIMPANGAN

Posted: Februari 18, 2011 in Artikel BK

Sejak awal perkembangannya hingga saat ini sebuah profesi konseling semakin diminati saja. Hal itu terbukti dengan semakin banyaknya calon mahasiswa yang memilih program studi tersebut. Semakin besarnya harapan dan peluang untuk masuk menjadi Calon Pegawai Negeri sipil melalui proram studi ini, serta banyaknya kebutuhan tenaga bimbingan konseling disetiap sekolah di Indonesia. Demikian pula para pengembang dan aktivis yang mengatasnamakan profesi ini tidak henti-hentinya menjalin kerjasama dan membangun komunitas konseling hingga semakin solidnya profesi ini. Sampai saat ini kita mengenal Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) sebagai wadah profesi bimbingan dan konseling. Melalui celah-celah yang demikian profesi ini mulai diakui, diperhatikan dan diperhitungkan oleh masyarakat kita, khususnya dikalangan pendidikan.
Di institusi sekolah profesi ini sungguh sangat mulia dan berjasa dalam setiap penanganan masalah perkembangan siswa. Tidak hanya penanganan masalah siswa, petugas BK adalah guru yang multi fungsi. Dikatakan demikian karena mampu mengerjakan tugas lain di luar kemampuan profesinya. Kenyataan ini tidak hanya terlihat dan terjadi di satu atau dua sekolah saja, namun hampir di setiap sekolah. Guru BK justru mengampu mata pelajaran lain atau menjadi petugas administrasi sekolah atau tata usaha. Guru BK menjadi petugas perpustakaan sekolah atau koperasi sekolah. Hampir di setiap waktunya hanya habis digunakan untuk mengurusi tugas tambahannya, sehingga pekerjaan pokoknya telak tak tersentuh. Tidak hanya demikian, guru BK juga harus hadir di sekolah lebih awal daripada guru-guru yang lain dan berdiri di depan pintu gerbang mengawasi dan menyalami anak-anak, padahal di setiap harinya telah dibuat jadwal guru piket. Guru BK terkadang merangkap menjadi petugas kesiswaan, dimana tata tertib dan kedisiplinan siswa selalu dilimpahkan penanganannya ke petugas BK, sehingga kesiswaan dan wali kelas terkesan hanya simbolik saja keberadaannya. Jika boleh memilih lebih mudah menjadi guru mata pelajaran lainnya daripada guru BK, tugasnya cukup mengajar mentok-mentoknya menjadi wali kelas. Sebagai guru BK terkadang merasa gundah atau was-was terhadap tugas yang mesti harus dijalankan. Lebih memberatkan atau membela siswa yang semestinya kita layani ataukah lebih memilih tugas atau perintah dari atasan yang kadang bertentangan dengan tupok kita sebagai guru BK. Jika kita lebih menegakkan ketertiban dan kedisiplinan sesuai dengan perintah atasan terkadang harus bermusuhan dengan siswa dan jika kita harus berdekatan dengan siswa kadang kita kena tegur atasan dengan alasan guru BK terlalu lembek untuk mengatasi masalah kenakalan siswa. Bukankah guru BK adalah dokter di sekolah bukan polisi yang siap sedia untuk menertibkan dan mendisiplinkan siswa. Jika memang demikian kenapa kita mesti diam dan terkesan membiarkan saja tugas yang bukan wewenang kita namun tetap kita lakukan, sehingga pada akhirnya hal ini menjadi momok yang menahun dalam profesi BK. Ternyata kita telah dibodohi oleh sebuah sistem yang mendarah daging dan membudaya, sehingga warga sekolah dan masyarakat pada umumnya menilai, memandang guru BK memang memiliki tugas yang demikian disebutkan di atas. Pemahaman yang keliru.
Ini sebuah pelanggaran kode etik bimbingan konseling yang semestinya kita patuhi dan kita jalankan sebaik mungkin. Namun lagi-lagi sistem yang berjalan di sekolahlah yang menyebabkan profesi ini terjerumus semakin dalam pada kekeliruan. Sebagai bawahan kita tidak bisa berbuat apa-apa, tetap saja harus menurut pada perintah atasan dengan seribu kekeliruan yang menjadi ganjalan hati profesi ini. Jawab mereka mudah saja “kita ini abdi Negara jadi kerjakan saja, jadi ga usah pilih-pilih. Kalau atasan memerintahkan ya harus dilaksanakan, pegang teguh rahasia jabatan”. meskipun kita diperbolehkan memberikan usulan dalam menjalankan tugas namun lagi-lagi jika usulan tersebut tidak sesuai dengan konsep atasan tetap saja tak sedikitpun berguna usalan tersebut. Apakah jika tugas yang dberikan atasan terdapat kekeliruan kita tetap memegang teGuh rahasia jabatan? Sedemikian dilemakah tugas yang harus kita emban dengan sepenuh hati ini?………benar-benar sebuah profesi YANG dipersimpangan.
Sebagai guru BK sejatinya memandang keadaan ini sangat miris dan memprihatinkan. Sejauh mana dan seperti apa tugas yang semestinya harus dilaksanakan di sekolah. Mungkinkan seperti yang demikian itu? Jika kita melihat jauh ke belakang di saat-saat masih mengenyam pendidikan bimbingan dan konseling di bangku perkuliahan, bahwa gambaran Guru BK adalah sebuah profesi yang mulia dan terhormat, sungguh ideal dan menjanjikan. Jauh dari kekerasan, penindasan berpihak pada siswa, melaksanakan penanganan masalah siswa dengan layanan bimbingan dan konseling sesaui dengan tugas pokoknya serta memegang teguh kode etik bimbingan konseling. Mengerjakan semua administrasi BK dan membimbing sebanyak 150 siswa tanpa dihantui perasaan was-was dan dilema.
Melihat kenyataan yang ada dan mengalami tugas nyata di lapangan sebuah profesi yang ideal dan terhormat ini hampir tak bernyawa lagi. Seribu cara suara yang digaungkan disetiap loka karya atau seminar dan workshop bimbingan konseling di seluruh Indonesia. Mereka meminta perlindungan pada ABKIN untuk menyelamatkan dan mengembalikan kehormatan profesi ini. Meski aspirasi sudah sampai terdengar namun kenyataannya ABKIN pun belum sepenuhnya membantu permasalahan ini, dapat dibuktikan banyak sekolah di daerah masih dengan guru BKnya yang tertindas dengan terbelenggu sistem yang telah berjalan. Jika diibaratkan seorang anak, dia akan menangis karena hak-haknya tidak diberikan sepenuhnya, selalu terbatas dan menuruti apa yang diperintahkan orang tuanya yang kolot.

Jika hal ini terus terjadi dan sulit untuk diubah, profesi ini tidak akan bisa berkembang seiring dengan meningkatnya kualitas pendidikan. Momok BK akan selalu terdengar hingga anak cucu kita ke depan. Sebaik-baik profesi adalah yang berjalan pada tugas pokok dan ranahnya. Meski semua tidak ada yang sempurna namun apa salahnya untuk belajar menggapai apa yang tidak akan bisa kita capai sebagai motivasi dan semangat menjaga profesi BK yang tercinta ini. Sebagai konselor sekolah berjuang menegakan kode etik dan bekerja tanpa pamrih maju terus COUNSELING GUIDANCE……………!!!!!!!!!!!!!!!!!

Komentar
  1. atzmalmsteen mengatakan:

    tolong beri komentar pada tulisan ini…………

  2. katresna72 mengatakan:

    Pa Atzmalmsteen…duh namanya kaya orang Ceko nich…sebelumnya saya ucapkan terima kasih telah mampir di blog saya, salam silaturahmi dan sukses selalu buat Bapak. saya ingin tanya apakah Bapak Guru BK dengan latar belakang asli BK? (maksudnya kan sekarang banyak mualaf nich ke BK). Memang yang Bapak tulis 95% betul…saya merasakan sendiri sejak diangkat tahun 1997 sejak itu pula saya memegang wakasek bidang kurikulum..ya Bapak tahu sendiri kerjaan kurikulum sangat padat karena katanya…jantungnya sekolah dengan prioritas utama peningkatan efektivitas PBM. Baru 2 tahun terakhir ini saya benar2 sadar dan istighfar…untuk mulai fokus pada BK..namun ya itu tadi tidak terlalu fokus he…Pa tugas dimana? saya sarankan artikel Bp ini coba dikirim ke ABKIN atau lembaga2 pendidikan yang mencetak guru BK…memang betul guru BK masih terasa dimarginalkan dalam berbagai policy pendidikan yang sedang diberlakukan. Mari pa kita bangkit untuk berupaya dan berusaha membenahi Bk sehingga menjadi profesi yang paling bermartabat..amiin.

    • atzmalmsteen mengatakan:

      hhheee..maf,,,,,emg sy org BK asli……tp sy suka dengan MUSIC jdi sy beri embel2 MALMSTEEN….dan yg sy tulis apa adanya seperti yg terjadi di sekolah sy…jdi ni curhat…mudah2n bs menggugah guru BK n pembaca semua….
      Mf klo blh tau bpk ngjr dimna…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s