Menangani Anak Hiperaktif

Posted: November 2, 2011 in Artikel BK

Menangani Anak Hiperaktif

 

Mendidik anak untuk bisa pintar mungkin terlalu mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Tetapi mendidik anak untuk mempunyai emosi yang stabil, tidak semua orang bisa melakukannya. Dibutuhkan orang tua dan guru yang sabar, serius, ulet, serta mempunyai semangat dedikasi tinggi dalam memahami dinamika kepribadian anak.  Perilaku siswa usia sekolah saat ini banyak dikeluhkan guru. Para guru mengeluh sikap anak-anak yang sangat sulit di atur emosinya di kelas selama pelajaran berlangsung. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana melatih dan mengajarkan siswa saya untuk konsentrasi, tekun, dan tenang selama pelajaran saya berlangsung. Saya bingung, teguran dan sangsi apa lagi yang harus saya berikan agar siswa saya bisa duduk dengan tenang selama pelajaran berlangsung sehingga dapat dengan mudah memahami materi yang saya ajarkan. Itulah dua dari sekian banyak contoh keluhan para guru menghadapi siswa hiperaktif di kelas selama pelajaran berlangsung di sekolah.

Dalam Psikologi terdapat apa yang namanya anak penderita Attention deficit Hiperactivity Disorder (ADHD). ADHD didefinisikan sebagai anak yang mengalami defisiensi dalam perhatian, tidak dapat menerima impuls-impuls dengan baik, suka melakukan gerakan-gerakan yang tidak terkontrol, dan menjadi lebih hiperaktif. Adapun kriteria anak hiperaktif pada masa sekolah adalah sebagai berikut:

 

1.         Mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian (defisit dalam memusatkan perhatian) sehingga anak tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya secara baik.

2.         Jika diajak bicara siswa hiperaktif tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya (bersikap apatis terhadap lawan bicaranya).

3.         Mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar dirinya..

4.         Tidak dapat duduk tenang walaupun dalam batas waktu lima menit dan suka bergerak serta selalu tampak gelisah.

5.         Sering mengucapkan kata-kata secara spontan (tidak sadar).

6.         Sering melontarkan pertanyaan yang tidak bermakna kepada guru selama pelajaran berlangsung.

7.         Mengalami kesulitan dalam bermain bersama temannya karena ia tidak memiliki perhatian yang baik

Terhadap kondisi siswa yang demikian, biasanya para guru sangat susah mengatur dan mendidiknya. Di samping karena keadaan dirinya yang sangat sulit untuk tenang, juga karena anak hiperaktif sering mengganggu orang lain, suka memotong pembicaran guru atau teman, dan mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu yang diajarkan guru kepadanya. Selain itu juga, prestasi belajar anak hiperaktif juga tidak bisa maksimal.
Secara psikologis, perkembangan kognisi anak-anak yang menderita hiperaktif biasanya termasuk dalam kategori normal. Jika prestasi akademik mereka rendah, sebenarnya bukan karena perkembangan kognisinya yang bermasalah, tetapi lebih disebabkan karena ketidakmampuan mereka untuk konsentrasi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas.

Solusi yang bisa ditawarkan untuk mengatasi masalah hiperaktif pada siswa di sekolah adalah orang tua harus berupaya menghilangkan perilaku hiperaktif anak sebelum masuk sekolah. Cara yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah sedini mungkin membiasakan seorang anak untuk hidup dalam suatu aturan. Jadi anak harus dikendalikan emosinya dengan penerapan aturan yang konsisten di rumah oleh orang tua. Selain itu, anak juga harus sedini mungkin diberikan kepercayaan dan tanggung jawab terhadap apa yang seharusnya dia lakukan. Di bawah ini ada beberapa ciri khusus yang dapat orang tua deteksi perilaku hiperaktif anak pada setiap fase perkembangannya.

 

1.         Akhir tahun pertama sebelum masuk sekolah (pada saat Balita) perilaku Attention deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) yang ada pada anak belum bisa terdeteksi secara nyata, tetapi bila mereka menunjukkan tingkah laku gelisah dalam melakukan suatu aktifitas tertentu maka orang tua sebenarnya harus bisa memberikan perhatian serius.

2.         Pada masa pra sekolah, gejala ADHD-nya mulai nampak. Misalnya tidak mampu mengerjakan suatu tugas yang ringan, tidak mampu bergaul dengan teman atau cuek terhadap lingkungan sekitarnya.

3.         Pada masa sekolah jika tidak mendapatkan perhatian serius maka defisiensi yang di derita anak akan bertambah sehingga kondisinya bisa lebih parah dari masa sebelumnya. Langkah terbaik untuk masa ini adalah anak perlu diperhatikan kondisi emosinya seawal mungkin oleh orang tua sebelum masuk sekolah.

4.         Jika pada tiga fase sebelumnya tidak diperhatikan secara serius, maka pada masa remaja awal (SLTP) anak yang menderita ADHD tidak dapat berhasil dalam belajar. Kondisi ini yang menyebabkan seorang remaja tidak dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi nantinya.Alasan yang sangat nyata adalah karena prestasi belajar anak hiperaktif yang sangat rendah. Kondisi ini lebihdisebabkan karena anak hiperaktif mengalmi deficit dalam perhatian.

5.         Pada masa dewasa seorang yang masih menderita ADHD mengalami masalah dalam hubungan interpersonal seperti, kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain (minder) tidak percaya diri, tidak mempunyai konsep diri yang jelas, selalu tampak depresi atau stress, memiliki perilaku anti sosial, dan selalu merasa tidak mantap dengan tugasnya atau pekerjaannya. Jadi ADHD yang tidak teratasi akan terbawa sampai masa dewasa.
Kerja nyata dari orang tua dalam membentuk emosi anak adalah sedini mungkin mencoba membimbing anak dalam berbagai aktivitas hidupnya. Belajar menenangkan anak untuk bisa memusatkan perhatiannya sedini mungkin menjadi penting, karena akan berpengaruh secara tidak langsung pada perkembangan prestasi anak di sekolah. Keterampilan khusus yang dimiliki orang tua dalam mengatur emosi anak sejak dini itu akan mematangkan emosinya pada waktu sekolah nantinya. Keterampilan-keterampilan yang diajarkan oleh orang tua pada waktu kecil juga akan memungkinkan seorang anak bisa bersikap penuh perhatian terhadap isyarat-isyarat sosial pada perkembangan kepribadiannya. Dengan kata lain, keseriusan orang tua dalam mendeteksi dan menanggapi secara baik setiap emosi yang dimunculkan anak pada masa kecil, akan membantu anak pada proses perkembangan kepribadian anak selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Menangani Anak Hiperaktif

Posted: November 2, 2011 in Uncategorized

Menangani Anak Hiperaktif

 

Mendidik anak untuk bisa pintar mungkin terlalu mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Tetapi mendidik anak untuk mempunyai emosi yang stabil, tidak semua orang bisa melakukannya. Dibutuhkan orang tua dan guru yang sabar, serius, ulet, serta mempunyai semangat dedikasi tinggi dalam memahami dinamika kepribadian anak.  Perilaku siswa usia sekolah saat ini banyak dikeluhkan guru. Para guru mengeluh sikap anak-anak yang sangat sulit di atur emosinya di kelas selama pelajaran berlangsung. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana melatih dan mengajarkan siswa saya untuk konsentrasi, tekun, dan tenang selama pelajaran saya berlangsung. Saya bingung, teguran dan sangsi apa lagi yang harus saya berikan agar siswa saya bisa duduk dengan tenang selama pelajaran berlangsung sehingga dapat dengan mudah memahami materi yang saya ajarkan. Itulah dua dari sekian banyak contoh keluhan para guru menghadapi siswa hiperaktif di kelas selama pelajaran berlangsung di sekolah.

Dalam Psikologi terdapat apa yang namanya anak penderita Attention deficit Hiperactivity Disorder (ADHD). ADHD didefinisikan sebagai anak yang mengalami defisiensi dalam perhatian, tidak dapat menerima impuls-impuls dengan baik, suka melakukan gerakan-gerakan yang tidak terkontrol, dan menjadi lebih hiperaktif. Adapun kriteria anak hiperaktif pada masa sekolah adalah sebagai berikut:

 

1.         Mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian (defisit dalam memusatkan perhatian) sehingga anak tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya secara baik.

2.         Jika diajak bicara siswa hiperaktif tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya (bersikap apatis terhadap lawan bicaranya).

3.         Mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar dirinya..

4.         Tidak dapat duduk tenang walaupun dalam batas waktu lima menit dan suka bergerak serta selalu tampak gelisah.

5.         Sering mengucapkan kata-kata secara spontan (tidak sadar).

6.         Sering melontarkan pertanyaan yang tidak bermakna kepada guru selama pelajaran berlangsung.

7.         Mengalami kesulitan dalam bermain bersama temannya karena ia tidak memiliki perhatian yang baik

Terhadap kondisi siswa yang demikian, biasanya para guru sangat susah mengatur dan mendidiknya. Di samping karena keadaan dirinya yang sangat sulit untuk tenang, juga karena anak hiperaktif sering mengganggu orang lain, suka memotong pembicaran guru atau teman, dan mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu yang diajarkan guru kepadanya. Selain itu juga, prestasi belajar anak hiperaktif juga tidak bisa maksimal.
Secara psikologis, perkembangan kognisi anak-anak yang menderita hiperaktif biasanya termasuk dalam kategori normal. Jika prestasi akademik mereka rendah, sebenarnya bukan karena perkembangan kognisinya yang bermasalah, tetapi lebih disebabkan karena ketidakmampuan mereka untuk konsentrasi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas.

Solusi yang bisa ditawarkan untuk mengatasi masalah hiperaktif pada siswa di sekolah adalah orang tua harus berupaya menghilangkan perilaku hiperaktif anak sebelum masuk sekolah. Cara yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah sedini mungkin membiasakan seorang anak untuk hidup dalam suatu aturan. Jadi anak harus dikendalikan emosinya dengan penerapan aturan yang konsisten di rumah oleh orang tua. Selain itu, anak juga harus sedini mungkin diberikan kepercayaan dan tanggung jawab terhadap apa yang seharusnya dia lakukan. Di bawah ini ada beberapa ciri khusus yang dapat orang tua deteksi perilaku hiperaktif anak pada setiap fase perkembangannya.

 

1.         Akhir tahun pertama sebelum masuk sekolah (pada saat Balita) perilaku Attention deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) yang ada pada anak belum bisa terdeteksi secara nyata, tetapi bila mereka menunjukkan tingkah laku gelisah dalam melakukan suatu aktifitas tertentu maka orang tua sebenarnya harus bisa memberikan perhatian serius.

2.         Pada masa pra sekolah, gejala ADHD-nya mulai nampak. Misalnya tidak mampu mengerjakan suatu tugas yang ringan, tidak mampu bergaul dengan teman atau cuek terhadap lingkungan sekitarnya.

3.         Pada masa sekolah jika tidak mendapatkan perhatian serius maka defisiensi yang di derita anak akan bertambah sehingga kondisinya bisa lebih parah dari masa sebelumnya. Langkah terbaik untuk masa ini adalah anak perlu diperhatikan kondisi emosinya seawal mungkin oleh orang tua sebelum masuk sekolah.

4.         Jika pada tiga fase sebelumnya tidak diperhatikan secara serius, maka pada masa remaja awal (SLTP) anak yang menderita ADHD tidak dapat berhasil dalam belajar. Kondisi ini yang menyebabkan seorang remaja tidak dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi nantinya.Alasan yang sangat nyata adalah karena prestasi belajar anak hiperaktif yang sangat rendah. Kondisi ini lebihdisebabkan karena anak hiperaktif mengalmi deficit dalam perhatian.

5.         Pada masa dewasa seorang yang masih menderita ADHD mengalami masalah dalam hubungan interpersonal seperti, kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain (minder) tidak percaya diri, tidak mempunyai konsep diri yang jelas, selalu tampak depresi atau stress, memiliki perilaku anti sosial, dan selalu merasa tidak mantap dengan tugasnya atau pekerjaannya. Jadi ADHD yang tidak teratasi akan terbawa sampai masa dewasa.
Kerja nyata dari orang tua dalam membentuk emosi anak adalah sedini mungkin mencoba membimbing anak dalam berbagai aktivitas hidupnya. Belajar menenangkan anak untuk bisa memusatkan perhatiannya sedini mungkin menjadi penting, karena akan berpengaruh secara tidak langsung pada perkembangan prestasi anak di sekolah. Keterampilan khusus yang dimiliki orang tua dalam mengatur emosi anak sejak dini itu akan mematangkan emosinya pada waktu sekolah nantinya. Keterampilan-keterampilan yang diajarkan oleh orang tua pada waktu kecil juga akan memungkinkan seorang anak bisa bersikap penuh perhatian terhadap isyarat-isyarat sosial pada perkembangan kepribadiannya. Dengan kata lain, keseriusan orang tua dalam mendeteksi dan menanggapi secara baik setiap emosi yang dimunculkan anak pada masa kecil, akan membantu anak pada proses perkembangan kepribadian anak selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

MENYELAMATKAN MARTABAT BK

Posted: November 2, 2011 in Artikel BK

Selamatkanlah martabat profesi ini. Dengan menyandang nama Bimbingan Konseling (BK) merupakan sebuah evolusi profesi dalam rangka membangun citra dirinya yang telah lama terpuruk oleh perlakuan wajah lama dengan sandangan Bimbingan Penyuluhan (BP).

Berawal dari nama ini, sebuah sistem terbangun dan menjadi dasar pedoman serta pandangan guru BP untuk melaksanakan tugasnya. Berlagak garang, memberikan hukuman dan sangsi, menyalahkan orang yang bersalah tanpa memberikan solusi sehingga ditakuti siswa di sekolah. Perlakuan secara fisik menjadi senjata yang ampuh untuk mengatasi masalah siswa, sehingga tidak kalah perannya dengan SATPOL PP yang ada di jalanan. Namun, alhasil saat itu pula kekerasan terhadap siswa masih aman dilakukan oleh guru BP atau guru yang lainnya. Anehnya lagi saat itu juga orang tua siswa tidak banyak yang protes atas kekerasan siswa di sekolah dan hal itu dianggap solusi yang wajar untuk anak-anaknya.

Hingga bergantinya dengan nama baru BIMBINGAN KONSELING serta dengan konsep pandangan yang baru, ABKIN sebagai badan yang menaungi bimbingan konseling di Indonesia mencoba untuk membangun citra guru BK yang bermartabat. Menghilangkan semua produk-produk negatif dari bimbingan penyuluhan yang terkesan menakutkan. Mulai dari seminar dan worksop BK di setiap daerah hingga pendidikan profesi untuk menunjang profesionalitas guru BK. Melalui sosialisasi tersebut diharapkan semua guru BK baik yang senior maupun yang junior (dari segi umur dan pengalaman) menerapkan bimbingan konseling yang membawa martabat profesi dan keselamatan anak bangsa.

Meskipun telah berganti nama dan kebijakan, banyak pula guru-guru BK yang masih menerapkan dan mempertahankan pola-pola lama dalam melaksanakan tugas ke-BKan. Banyak alasan yang membuat mereka bertahan. Mulai dari malasnya mempelajari konsep kerja BK yang baru, terbenturnya budaya BP yang masih terkesan sebagai polisi sekolah, benturan pandangan konsep BK dengan personil atau guru bidang studi lainnya dalam menangani permasalahan siswa, kebijakan pimpinan atau sekolah yang tidak memahami tugas BK yang sebenarnya serta campur aduknya penanganan ketertiban dan kedisiplinan antara BK dan kesiswaan. Hal ini banyak terjadi pada guru-guru BK di daerah yang tidak pernah mengaktifkan MGMP BK ataupun tidak pernah mengikuti seminar dan workshop BK. Jika ada sosialisasi pun adanya di kota besar seperti Jakarta, semarang, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Bali. Bagi guru BK di daerah seperti Cilacap sangatlah berfikir ulang untuk bisa mengikuti kegiatan profesi tersebut. Dengan alasan, sekolah tidak memberi ijin tertulis untuk mengikuti kegiatan tersebut, jika diijinkan harus menggunakan biaya sendiri, hal itupun tidak boleh dilaksanakan pada hari aktif sekolah karena bisa menggangu tugas dinas di sekolah. Kendala itulah yang membuat martabat BK masih dalam bayang-banyang semu.

Wajah lama itu benar-benar masih terasa sampai hari ini dan sulit untuk dihapus dari tugas mulia ini. Pemahaman yang salah ini telah “Mbalung Sumsum” atau mendarah daging. Kendala yang paling sulit buat kami guru BK dalam membenahi profesi ini adalah ketidaksepahaman pandangan antara guru BK dengan personil sekolah lainnya. Personil yang dimaksud adalah guru bidang studi, staf dan karyawan atau juga pimpinan yang tidak tahu tugas dan koridor kerja guru BK yang sebenarnya dalam menangani masalah siswa di sekolah. Pemahaman yang mereka miliki dapat ditafsirkan bahwa guru BK bertugas dan bertindak menangani siswa seperti polisi sekolah, yang menginjak, memberi sangsi dan hukuman baik psikis maupun fisik. Kemungkinan pemahaman mereka diperoleh dari pengalaman di lapangan sebelumnya di masa lalu, bisa saat mereka menjadi guru ataupun saat mereka masih menjadi siswa, sehingga pemahaman mereka masih terbawa sampai hari ini. Alhasil ketika ada sebuah sekolah dengan guru BK yang menerapkan penanganan siswa yang benar mereka sulit untuk menerimanya.

Kedisiplinan dan ketertiban siswa adalah tugas bersama guru di sekolah. Kerapihan seragam dan rambut menentukan penampilan siswa di sekolah. Pengalaman pribadi pada suatu hari saya ditanya oleh wali kelas di sekolah saya. “Pak, anda guru BK, tolong si A dipotong saja rambutnya yang panjang itu”, sebagai guru BK hati nurani saya mengatakan “kalau bisa guru BK tidak memotong rambut siswa karena bertentangan dengan profesi saya, saya kan bukan tukang potong rambut, guru BK kan dokter di sekolah buka polisi sekolah, saya tidak mau menangani masalah siswa dengan eksekusi secara fisik, tugas saya menangani siswa secara psikis”. Lantas saya menjawab “ maaf bu saya tidak mau memotong rambut silahkan anda sendiri sebagai orang tua siswa di sekolah yang lebih memiliki kewajiban menangani siswa, setelah anda potong baru nanti saya tangani siswa tersebut”.

Cerita singkat tersebut salah satu permasalahan ketidaksepahaman tugas antara guru BK dengan personil lainnya. Ada juga pandangan guru lain yang menginginkan tugask guru BK dikembalikan biasanya (menangani siswa baik secara fisik maupun psikis) tanpa menghiraukan kode etik yang dimiliki guru BK.

yukkk belajar ngeblog…..

Posted: Oktober 31, 2011 in Uncategorized

jika pertamanya ga tau tentang blog…ty dlu aja ke mbah google….

cobba

Posted: Oktober 31, 2011 in Uncategorized

coba


ARDOUR – Digital Audio Workstation.

WAVE GUITAR

Posted: Februari 27, 2011 in Uncategorized

WAVE GUITAR.

Ikan Mencari Air

Posted: Februari 27, 2011 in Cerita motivasi

Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang, di tepi sungai. Kata ayah kepada anaknya, ”lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.”
Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air. Ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting bagi kehidupan ini.
Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemui, ”Hai, tahukah kamu di mana adanya air ? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.
Ternyata semua ikan tidak mengetahui di mana letak sang air itu. Si ikan kecil semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu ikan sepuh yang sudah berpengalaman. Kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal serupa,” Dimanakah adanya air?”
Jawab ikan sepuh,” Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita akan mati.”

Kehidupan dan kebahagiaan itu ada di sekeliling kita dan sedang kita jalani, sepanjang kita mau membuka diri dan membuka pikiran kita. Karena saat untuk berbahagia adalah saat ini, saat berbahagia dapat kita tentukan.

NUENDO 5

Posted: Februari 27, 2011 in Atz Software

NUENDO 5.

Cangkir Yang Cantik

Posted: Februari 27, 2011 in Cerita motivasi

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik.
“ Lihat cangkir itu, ”kata si nenek kepada suaminya.” Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si kakek. Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara” terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik” ujar si cangkir. Kemudian ia mulai bercerita kepada pasangan tersebut.
Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar, kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. “Stop, stop!” aku berteriak.
Tetapi orang itu berkata ”belum !” lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. ”stop.stop!” teriakku lagi. Tapi orang itu masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku.
Bahwa lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke perapian. Panas, panas!” Teriakku dengan keras.” Stop! Cukup!” Teriakku lagi. Tapi orang itu berkata, “belum!” Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin.
Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. ”Stop!Stop !” aku berteriak. Wanita itu berkata, “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya. ”Tolong! hentikan penyiksaan ini!” Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakkannu. Ia terus membakarku. Setelah puas” menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.
Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku kedekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena dihadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Renungan :
Cangkir tersebut bagai perumpamaan Tuhan membentuk kita. Pada saat Tuhan membentuk kita. Tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-Nya
Anggaplah sebagai suatu proses, ketika kita jatuh ke dalam berbagai cobaan, sebab ujian itu akan menghasilkan buah yang matang supaya kita menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.
Bila sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Dia sedang membentuk kita. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai, akan terlihat cantiknya Tuhan membentuk.